Selamat Datang di PT Pertamina Bina Medika

Telepon : (021) 7219031 / (021) 7219299
   Email : info@pertamedika.co.id

Ciri Anak Disleksia Berdasarkan Usia

03 October 2018

Dilansir dari http://www.parenting.co.id Berikut ini ciri yang dapat Mama tandai pada anak berdasarkan tingkatan usia.
Pada usia 0 – batita
  • Anak mengalami speech delayed atau keterlambatan bicara. Sebuah penelitian menunjukkan: 50 persen anak yang telat bicara biasanya juga mengalami learning disorder. Untuk mendeteksi anak telat bicara tak harus menunggu anak berusia di atas 2 tahun. Bahkan sebelum usia setahun bisa dideteksi. Misalnya, pada usia antara 8-9 bulan, anak harusnya sudah mengucapkan kata papapa, tatata, dadada. Jika tidak, itu juga sudah sinyal telat bicara.
  • Mampu berbicara, tetapi dengan kosa kata terbatas, atau berbicara dengan kata-kata tak jelas artinya.
Pada usia prasekolah
  • Kosa kata lambat berkembang
  • Tak mahir cuma memakai satu tangan, dan bingung atau sering tertukar kanan dan kiri. Kesulitan ini termasuk menentukan arah kanan dan kiri, serta orang yang berhadapan dengannya itu di posisi kanan atau kiri.
  • Akibat gangguan proses pengindraaan, ia sulit melakukan koordinasi gerak untuk mengikat tali sepatu dan mengancingkan baju. Ia pun kesulitan dalam kendali/ refleks gerak, serta menjaga keseimbangan, sehingga jalan tergesa-gesa atau tersandung dengan kakinya sendiri.
  • Sulit konsenstrasi karena mungkin tak tahan suara bising atau keras (disleksia hipersensitif pendengaran.)
  • Jika mulai belajar calistung (baca-tulis-hitung), ia kesulitan mengenali huruf dan bunyi huruf
  • Senang dibacakan cerita, tetapi tak tertarik membaca
Pada usia sekolah
Beberapa ciri usia prasekolah masih berlanjut. Dan ia akan:
  • Mengalami kesulitan membaca atau tingkat membaca tidak seperti tingkat anak seusianya
  • Dapat membaca, tetapi sulit mengeja kata-kata sulit, membaca dengan beberapa huruf/kata dibaca terbalik, atau membaca dengan satu atau beberapa huruf/kata tidak terbaca, tidak memerhatikan tanda-tanda baca.
  • Bingung dengan konsep waktu dan mengingat urutan, misalnya urutan hari dan bulan.
  • Tidak mengalami kesulitan dalam bicara, tetapi terkadang salah memilih terminologi atau pengungkapan kata yang tepat. Misalnya, dalam menyebut “Laut itu airnya tebal”. Padahal yang dimaksud adalah airnya dalam.
  • Lambat menulis, tulisan acak-acakan, atau penulisan beberapa huruf dan angka terbalik, seperti antara huruf b dan d, p dan q, atau w dan m.
  • Sulit konsentrasi sehingga menjadi hiperaktif, atau ada pula mengalami demam bengong, seperti tiba-tiba berdiri atau berjalan tanpa tahu sebab ia melakukannya.
  • Kesulitan koordinasi gerak dan keseimbangan.
    Sumber : http://www.parenting.co.id